Review film The Fault In Our Stars

Awalnya, Hazel yang hobi  menonton reality shows di tv ini ia tidak terlalu ingin mengikuti support group tersebut, karena dia merasa dirinya tidak mengalami depresi. Sampai akhirnya Augustus Waters (yang diperankan oleh Ansel Elgort), penderita osteosarcoma yang harus kehilangan satu kakinya dan  harus memakai kaki buatan, datang ke support group atas ajakan temannya yang terancam buta karena menderita tumor di mata bernama Isaac (diperankan oleh Nat Wolff). Augustus pun tertarik dengan Hazel, ia sering mengajak Hazel untuk datang ke rumahnya, dari yang cuma sekedar menonton film bareng sampai tukar menukar buku bacaan. Hazel meminjamkan novel favoritnya yang berjudul An Imperial Affliction karya Peter Van Houten (yang diperankan oleh Willem Dafoe) ke Augustus. Augustus pun jadi ikut gemar membaca novel yang berakhir ditengah­tengah kalimat tersebut, dan lambat laun Hazel dan Augustus jadi saling jatuh cinta. Akhirnya, Augustus dan Hazel pun mencoba mengFilm ini menceritakan tentang Hazel Grace Lancaster (yang diperankan oleh Shailene Woodley), remaja 17 tahun yang merupakan penderita kanker tiroid stadium 4 dan kankernya juga menjalar ke paru­parunya. Kemana-mana, Hazel harus membawa tabung oksigen yang dibawa seperti koper karena kalau kata
Hazel, her lungs suck at being lungs. Dokter dan orang tua Hazel beranggapan bahwa Hazel mulai menunjukkan gejala depresi karena kanker yang dialaminya, orang tua Hazel pun mengajak dia untuk mengikuti support group yang berisikan sesama penderita kanker.

Hubungi Peter Van Houten yang tinggal di Amsterdam untuk mencari tahu apa yang terjadi selanjutnya pada tokoh­tokoh utama di novel An Imperial Affliction. Mereka pun berhasil menguhubungi Peter, bahkan Peter mengundang mereka untuk bertemu dengannya di Amsterdam, dan tawaran tersebut diterima dengan sukacita oleh Augustus
dan Hazel.

Cerita ini cukup berkesan, ada adegan yang sangat saya suka, antara Hazel dan Gus, ketika mereka pertama kali mereka bertemu di grup/kelas motivasi. Ketika Gus mengejutkan Hazel dengan mengeluarkan Rokok dan mulai menempelkannya di mulut Gus. Ekspresi Hazel yang sangat kecewa kepada Gus karena Hazel begitu terkesan kepada Gus pada saat itu. Namun, Gus ternyata tidak menyalakan rokok itu, itu hanya sugesti yang dibangun Gus untuk melawan penyakit yang di idapnya. “Rokok itu berbahaya, tapi tidak akan pernah punya kekuatan ketika tidak kau beri api untuk menyalakannya”. Secara keseluruhan, film ini memang cukup bagus, memberi pengetahuan kepada masyarakat luas, bahwa pengidap kanker atau penyakit berbahaya lainnya tersebut sebenarnya bukan untuk dikucilkan. Tapi bagaimana kita harus memperlakukan mereka dengan lebih baik. Mereka hidup tidak dengan pilihan mereka sendiri, tapi kita lah yang harus memberikan mereka pilihan yang lebih baik, sebuah kesempatan. Cerita yang diangkat dalam film ini cukup inspiratif bagi saya, karena tidak banyak film yang beredar sekarang ini mengangkat film tentang minoritas. Bagaimana perjuangan kaum minoritas, dikucilkan, diasingkan, dan lain sebagainya.

Ditulis:
Nadhira Putri Alifa

Leave a comment