Pengabdi Setan Joko Anwar, Remake Film Horor yang Menjanjikan

Film horor selalu memiliki tempat tersendiri di hati para penikmat film di Indonesia. Tidak terhitung sudah berapa banyak film horor yang diproduksi oleh para sineas perfilman Indonesia. Ada yang kualitasnya di atas rata-rata, ada pula yang kualitasnya biasa-biasa saja. Banyak pengamat film yang mengatakan bahwa film horor Indonesia pada tahun 1980-an lebih seram dan berkualitas dibandingkan film horor pada tahun 2000-an.

Pendapat ini tidak bisa dibilang salah, karena memang film-film horor yang dibuat kala itu mampu menampilkan kengerian yang membuat penontonnya terus terngiang-ngiang meski dengan teknologi yang masih terbatas. Beberapa film horor tahun 80’an yang mendapat sambutan luar biasa dan masih terus diingat hingga sekarang adalah Malam Satu Suro dan Pengabdi Setan.

Sayangnya tren positif yang ada pada tahun 80’an ini tidak berlanjut di tahun 90’an. Seiring dengan lesunya perfilman Indonesia di rentang waktu itu, genre horor pun mengalami kelesuan. Bisa dibilang tidak ada film horor berkualitas yang bisa diingat di era waktu ini. Barulah di tahun 2000-an, lewat film Jelangkung, Indonesia kembali membuktikan bahwa para sineasnya masih bisa membuat film horor berkualitas yang mampu menebarkan ketakutan bagi siapapun yang menontonnya.

Di tahun 2017, beberapa film horor Indonesia yang telah tayang di bioskop mendapat sambutan yang baik dan terbukti mampu menjaring jumlah penonton yang banyak. Dan di bulan September 2017 ini, ada sebuah judul yang sudah ditunggu-tunggu oleh para penikmat film horor di seluruh Indonesia. Apalagi jika bukan film karya Joko Anwar yang berjudul Pengabdi Setan. Film ini adalah remake dari film berjudul sama yang dirilis di tahun 1980-an. Bukan tanpa alasan jika sang sutradara memutuskan untuk mendaur ulang film tersebut. Pada masanya, film ini begitu terkenal hingga ke negara lain. Film ini sempat dirilis dalam format kaset VHS dan DVD di Amerika Serikat, Eropa, dan juga Jepang.

Di era itu, film-film horor yang ada lebih banyak diwarnai oleh kepercayaan Kristen maupun Budha. Sehingga bisa dibilang film Pengabdi Setan memberi warna baru dalam genre horor di Indonesia karena membawa kepercayaan Islam di dalam filmnya. Banyak penggemar film horor Asia yang memberikan status kultus pada film ini. Selama bertahun-tahun, banyak orang yang kesulitan dalam mendapatkan film ini, karena versi yang tersedia hanyalah VHS versi rilisan dari Jepang tanpa subtitle bahasa inggris. Barulah pada tahun 2006, Brentwood Home Video, spesialis label video dari Amerika Serikat merilis versi cetak tanpa sensor dalam format DVD untuk dirilis sebagai bagian dari seri Eastern Horror (Horor Timur).

Selain karena kepopuleran film aslinya, Joko juga menyebut bahwa film Pengabdi Setan yang disutradarai Sisworo Gautama Putra itu merupakan film yang memicunya untuk menjadi seorang pembuat film. Sejak kecil Joko sudah ingin memberikan penghormatan terhadap film Pengabdi Setan yang asli. Dalam sebuah wawancara, Joko mengatakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia ingin menggarap film ini, tepatnya sejak 10 tahun yang lalu. Namun karena terkendala ijin dari pemilik filmnya, ia pun belum berhasil merealisasikannya. Hal ini tidak membuatnya putus asa. Ia terus membujuk rumah produksi Rapi Films agar menyetujui proyek impiannya tersebut. Hingga akhirnya Sunil Samtani selaku produser eksekutif Rapi Films memberi ijin kepadanya. Ijin ini serasa bagaikan angin segar bagi Joko. Ia pun mengaku begitu antusias dalam menggarap remake Pengabdi Setan. Ceritanya sendiri akan tetap sama seperti aslinya, dengan beberapa perubahan yang dilakukan. Perubahan yang dilakukan ini, menurut Joko, dilakukan untuk meningkatkan kualitas filmnya.

Joko mengatakan bahwa unsur-unsur yang memberikan ketakutan pada film aslinya belum tentu mampu memberikan ketakutan yang sama pada jaman sekarang. Itulah sebabnya ia harus memberikan beberapa perubahan yang dirasa mampu memberikan kesegaran tersendiri. Diakui oleh Joko, ini bukanlah hal yang mudah. Untuk karakter setiap pemain misalnya, Joko butuh waktu dua bulan. Ia juga memikirkan cara untuk memberikan efek takut yang lebih mendalam lewat hantu yang ada pada filmnya. Joko pun lalu memutuskan untuk tidak menggunakan efek komputer dan lebih memilih mengandalkan tata rias.

Menurutnya tata rias yang baik akan mampu membuat horor yang ditampilkan di layar terlihat lebih nyata. Ia bahkan melakukan uji coba tes rias selama berminggu-minggu untuk menemukan desain yang pas. Oleh karena itulah, Joko meyakinkan bahwa film horor garapannya ini akan berbeda dibandingkan film-film horor yang sudah ada. Meski tanpa sentuhan efek komputer, namun filmnya akan tetap mampu membuat siapapun yang menontonnya merasa merinding. Film ini akan mengandalkan atmosfer yang ada di dalamnya.

“Jadi daripada mengagetkan penonton dengan suara yang memekakkan telinga, kami ingin membuat horornya masuk ke kulit. Pelan-pelan akan semakin membuat tidak nyaman. Dibandingkan suara, kami mengandalkan atmosfer horor yang sama dengan film aslinya,” ungkap Joko Anwar.

Tidak hanya ceritanya yang dibuat lebih segar, Joko Anwar pun merekrut berbagai pemain terkenal untuk bermain dalam filmnya ini. Ada Tara Basro, Dimas Aditya, Fachri Albar, serta beberapa seniman senior seperti Ayu Laksmi dan Egy Fadly. Pengabdi Setan menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan empat orang anak. Sudah 3 tahun terakhir, sang ibu menderita sebuah penyakit aneh yang tidak diketahui asal muasalnya dan tidak dapat disembuhkan. Hingga akhirnya sang ibu pun meninggal dunia karena penyakitnya tersebut. Setelah sang ibu meninggal, bapak pun memutuskan pergi ke luar kota untuk mencari nafkah.

Tidak selang berapa lama setelah kepergian bapak ke luar kota, mulai terjadi kejadian-kejadian aneh di rumah yang mereka tinggali. Anak-anak merasa bahwa ibu datang kembali menyapa mereka ke rumah. Situasi semakin menyeramkan ketika mereka mengetahui bahwa kedatangan ibu bukanlah sekedar menjenguk, namun untuk menjemput mereka. Rini sebagai kakak tertua tentu saja tidak tinggal diam. Ia berusaha melindungi adik-adiknya dari teror yang datang silih berganti. Apakah memang benar yang melakukan teror itu adalah sosok ibu yang telah meninggal ataukah ada hal lain yang berusaha mengganggu mereka? Dan apakah Rini mampu menyelamatkan keluarganya dari teror tersebut?

Joko Anwar tidak mengungkapkan garis besar cerita dengan detail. Dari official trailer yang telah dirilis pun tidak mengungkapkan begitu banyak isi filmnya. Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Joko agar penonton bisa tetap menikmati filmnya tanpa terganggu adanya spoiler. Film ini dibuat Joko dalam waktu yang relatif singkat. Dengan masa persiapan 2 bulan dan diproduksi dalam waktu 18 hari. Meskipun begitu, diakui Joko, bukanlah hal mudah dalam mencari pemain yang dirasa cocok. Untuk setiap karakter, bagian casting melakukan audisi pada 30 orang. Hingga akhirnya terpilihlah Tara Basro serta Dimas Aditya yang menjadi pemeran utamanya. Joko mengatakan bahwa mencari pemeran bapak yang cocok agak sulit. Ia lalu menghubungi Bront Palarae untuk minta dicarikan pemeran yang dirasa cocok menjadi bapak. Namun akhirnya Joko pun memilih Bront untuk menjadi pemeran bapak.

Film ini menjadi kerjasama yang kedua antara Tara Basro dengan Joko Anwar. Sebelumnya mereka pernah bekerjasama dalam film A Copy of My Mind pada tahun 2015. Diakui Tara, sebelumnya ia sempat terkejut ketika ditawari proses casting film oleh Joko. Awalnya ia menganggap film yang ditawarkan padanya itu bergenre komedi romantis. Namun ternyata malah film horor. Tara sempat berpikir ulang untuk bermain dalam film ini, karena ia mengatakan bahwa dirinya penakut. Meski sebelumnya sudah pernah bermain film horor, namun ia mengatakan bahwa film ini lebih mengerikan dibandingkan film yang pernah ia perankan sebelumnya. Setelah membaca naskahnya, Tara pun menjadi tertarik dan akhirnya memberanikan diri untuk bergabung.

Dimas Aditya juga menyatakan kegembiraannya bisa bergabung dalam tim Pengabdi Setan. Sejak membaca naskahnya, ia merasa yakin bahwa remake ini akan sukses seperti pendahulunya. Menurut Dimas, Joko adalah sosok sutradara yang tidak bisa ditebak. Pada saat di lapangan misalnya, setiap adegan yang dilakukan oleh para pemerannya hampir tidak bisa dibayangkan oleh para pemerannya tersebut. Beda lagi pengalaman yang dirasakan oleh Ayu Laksmi. Ayu yang lebih dikenal sebagai penyanyi senior sempat tidak yakin dengan kemampuannya bermain film horor. Namun ia diyakinkan oleh sahabatnya, Happy Salma, bahwa dirinya mampu. Happy Salma pulalah yang merekomendasikan Ayu kepada Joko. Ayu pun berterima kasih kepada Happy Salma dan berusaha melakukan yang terbaik.

Selain dari sisi pemeran, Joko Anwar pun sangat memerhatikan bagian sound dan musiknya. Ia sangat berterima kasih pada bagian Music Director. Hanya dalam waktu satu bulan, ia memberikan arahan, tim Music Director langsung mengerjakannya dengan cepat. Tim Music Director bahkan sampai membuat secara khusus paduan suara hantu untuk membuat efek seram agar film bisa terasa lebih hidup. Joko juga mengatakan bahwa lagu-lagu dan musik yang ada dalam film ini akan segera dirilis dalam bentuk album soundtrack dan dirilis dalam platform Spotify dan iTunes. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa akan ada 21 track lagu di dalam albumnya tersebut. Selain lagu baru, akan ada pula beberapa lagu lama dari film aslinya.

Tentunya setiap sutradara berharap bahwa film garapannya akan sukses dan meraih banyak penonton. Namun ketika ditanya hal itu, Joko menjawab bahwa dirinya tidak memiliki target mengenai jumlah penonton yang akan menonton filmnya tersebut. Yang terpenting bagi dirinya adalah ia sudah berhasil memproduksi film yang telah menjadi obsesinya sejak kecil dengan hasil yang terbaik. Joko menambahkan bahwa dirinya menjaga setiap kekuatan dan penjiwaan setiap karakter yang ada. Ini bertujuan agar jika nanti ada garapan produksi selanjutnya, maka karakter tersebut bisa diajak bekerja sama kembali.

Ucapan Joko ini seperti menandakan bahwa akan ada sekuel yang hendak dibuat. Namun ketika ditanya apakah akan ada sekuel dari filmnya ini, Joko hanya tertawa sambil menjawab, “lihat saja nanti”. Pihak Rapi Films pun merespon positif terhadap kemungkinan adanya sekuel. Sunil Samtani membenarkan rencana tersebut dan mengatakan bahwa jika filmnya sukses, mereka sudah memikirkan untuk membuat lanjutannya.

Indikator kesuksesan sebuah film tentu saja dilihat dari raihan jumlah penonton yang memadati bioskop. Sunil menargetkan film ini bisa mencapai target box office. Pihaknya juga memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menayangkan secara bersamaan versi  lama dan versi baru film Pengabdi Setan ini. Rencana ini ditargetkan akan dilakukan dua minggu setelah film tersebut tayang di bioskop. Jika filmnya sukses di dalam negeri, Rapi Films pun memiliki rencana untuk mengedarkannya di luar negeri. Dengan berbagai persiapan maksimal yang sudah dilakukan tim produksi, saya merasa bahwa film ini akan menjadi salah satu film horor terbaik di tahun 2017 ini.

Lalu apakah kamu merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sudah penasaran hendak menonton film Pengabdi Setan versi terbaru ini? Film ini tayang serentak di bioskop Indonesia pada tanggal 28 September 2017. Belum nonton? Segera pesan tiket filmnya di sini untuk mendapatkan diskon tiket Rp 20.000 dari BookMyShow.

 

Penulis:

Hary Gimulya

 

Ini adalah artikel yang ditulis oleh komunitas BookMyShow. Kamu juga bisa membuat artikel serupa dengan mengikuti Write for BookMyShow.

 


BACA JUGA


Ad
[fbcomments]