Review Film: Keluarga Cemara, Tempat Jujur untuk Melepas Lelah dan Jadi Diri Sendiri

review-film-keluarga-cemara-tempat-jujur-untuk-melepas-lelah-dan-jadi-diri-sendiri

Kamu yang merasakan dan pernah mengungkapkan “keluarga adalah tempat ternyaman melepas lelah dan bebas menjadi diri sendiri” bisa saja belum benar-benar-benar merasakan itu semua.

Namun, film Keluarga Cemara bisa memberikan satu sudut pandang yang baru. Keluarga adalah ruang mengungkapkan cita dan cinta kepada orang-orang terdekat kita.

Perbedaan pendapat, cara berpikir, berbagi cinta, canda dan tawa hanyalah sebagian dari paket komplit yang ditawarkan film ini. Lalu, apa yang diceritakan di dalam film ini? Berikut review Keluarga Cemara.

Tidak ada yang menyangka jika Abah (Ringgo Agus Rahman), harus mengakhiri nikmatnya duniawi begitu cepat. Ia mengalami musibah, yaitu peliknya masalah utang piutang. Tak ada jalan lain, Abah harus ikhlas melepas semua yang diperolehnya selama ini.

Beban Abah tidak hanya itu. Ia harus menjaga keutuhan keluarganya bersama Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri). Tak ada jalan lain, Abah harus bisa bertahan.

Kejujuran menjadi nilai tambah bagi sosok Abah. Benar, ia harus “jujur” untuk memulai sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama ini. Ia harus jujur memberikan pendidikan bagi dua putrinya, Euis dan Ara yang dulunya berada di sekolah terhormat, namun kali ini berada di sebuah kampung yang jauh dari kesan mewah.

Ada satu yang membuat semuanya menjadi seimbang, yaitu Emak. Sosok wanita yang tak kalah jujur mengayomi dan menjaga keutuhan keluarganya. Ia ikut meredam ego putri remajanya Euis dan memberikan ketabahan pada jalan hidup baru milik Abah berada di jalurnya.

Emak, mampu meninggalkan kejujuran yang jauh lebih dalam pada Ara. Putrinya yang begitu spontan dan ingin lebih dalam merasakan cinta pada keluarganya.

Lalu, bisakah Abah menuntun keluarganya menjalani hidup yang berbeda? Seperti halnya celetukan “Tidak semudah itu Ferguso” keluarga ini butuh proses untuk mencapai apa yang paling realistis di kehidupan baru mereka. Akan ada banyak keseruan-keseruan sebuah keluarga yang mengaduk emosi penonton di film ini.

Rasa yang Jujur

review-film-keluarga-cemara-tempat-jujur-untuk-melepas-lelah-dan-jadi-diri-sendiri

Sumber: Visinema Pictures

Menjadi orang yang benar-benar jujur itu sulitnya setengah mati. Jika terlalu mudah terbawa arus berarti ada kejujuran yang harus dibatasi. Setidaknya, duet sutradara Yandy Laurens dan penulis naskah Gina S. Noer kali ini memilih untuk jujur pada gagasan mereka dalam membuat film.

Memaksakan memori sinetron Keluarga Cemara yang legendaris tentunya akan terasa cukup sulit jika dibuatkan di dalam filmnya. Namun, menjadi diri sendiri dengan ide-ide segar menjadikan film Keluarga Cemara, terasa nyaman untuk dinikmati.

Klise, dan bahkan terlihat nyaris sama dengan kisah sientronnya, namun pelan-pelan film ini mampu menggiring emosi penonton, bahkan bisa-bisa kamu ikut menitikkan air mata atau melempar senyum yang diakhiri dengan tarikan nafas lega.

Pengemasan konflik film ini pun sebenarnya sederhana. Keutuhan keluarga, keuangan pekerjaan, teman-teman baru, hingga kritik seorang anak dengan jujur dan polos yang merindukan sosok Ayah ditampilkan secara gamblang di film ini.

Alih-alih menghadirkan drama yang cengeng dan manja, hampir di keseluruhan jalan cerita film Keluarga Cemara memberikan beberapa sentilan yang mungkin saja pernah kamu alami.  Apalagi, cerita ini dibuat relevan dengan kehidupan di masa modern.

Satu lagi, film ini juga menyiratkan “kejujuran” melalui dialog-dialognya. Sebuah apresiasi khusus bagi pemeran Ara yang benar-benar melakoni aktingnya dengan gaya yang apa adanya.

Sisanya, film Keluarga Cemara adalah salah salah satu film terbaik yang mungkin saja akan mengenggam penghargaan di pengujung tahun 2019 nanti.

Ara Mencuri Perhatian

Apa yang paling kamu ingat dari cerita Keluarga Cemara? Pastinya adalah penggalan dari lirik lagu “Harta yang paling berharga, adalah keluarga”. Abah dan Emak memang menjadi karakter utama yang disorot di dalam film ini.

Namun, putri dari pasangan Dwi Sasono dan Widi Mulia, yaitu Widuri Puteri Sasono yang memerankan karakter Ara, anak Abah di film Keluarga Cemara berhasil mencuri perhatian. Si kecil yang menggemaskan ini menghadirkan dialog-dialog spontan dan menohok. Memaksa penonton dewasa sesekali tersentil dengan ucapan-ucapannya yang seperti mengalir natural.

Tidak hanya itu, ketika konflik keluarga yang diceritakan di dalam film tengah memuncak, Ara yang justru merasa senang tinggal di desa mampu membuat suasana menjadi lebih cair dengan gaya khas anak-anak yang jenaka.

Benar rasanya film Keluarga Cemara adalah cerita yang jujur dari segala sudut pandang karakternya. Dari sinetron, dan kini dikemas melalui sebuah film yang relevan dengan masa sekarang, tanpa harus kehilangan kejujuran aslinya yang menggelitik sekaligus menyenangkan.

Sebuah cerita film yang kemudian memberikan pertanyaan untuk diri kita sendiri. Benarkah keluarga adalah tempat untuk bersandar dan menjadi diri sendiri? Sudahkan kita semua jujur dengan canda dan duka orang-orang terdekat kita? Plus, sebuah akhir cerita yang menggiring penonton menuju pada nostalgia sinetron dengan kelahiran si kecil yang akan membuat keluarga Abah menjadi lebih berwarna.

Belum nonton filmnya? Kamu bisa menyajikan ulasan atau review Keluarga Cemara versi kamu sendiri. Film ini sudah tayang di bioskop mulai tanggal 3 Januari 2019, dan kamu bisa pesan tiket bioskopnya di situs atau aplikasi BookMyShow yang tersedia gratis untuk pengguna Android dan iOS.

review-film-keluarga-cemara-tempat-jujur-untuk-melepas-lelah-dan-jadi-diri-sendiri

 

 


BACA JUGA


[fbcomments]