Review Film: Dark Waters, Perlawanan Membongkar Busuknya Korporasi

review-film-dark-waters-perlawanan-membongkar-busuknya-korporasi

Wajahnya canggung. Robert Billott (Mark Ruffalo) masih seperti biasanya. Seorang pengacara di sebuah perusahaan hukum yang membela banyak perusahaan besar. Semua gambaran ini bukan awal dari film perlawanan gigih seseorang yang berusaha menjatuhkan sebuah korporasi besar. Sedang tayang di bioskop CGV Cinemas dan Cinemaxx, berikut ulasan atua review film Dark Waters.

Mengunjungi rumah neneknya di Virginia Barat bukanlah hal rutin yang dilakukan Robert. Ia lebih banyak di kota mmengurusi setumpuk berkas pekerjaannya dan menjaga anak serta istrinya, Sarah (Anne Hathaway). Terkejut , tentu saja, ketika pada akhirnya Robert mengunjungi sang Nenek.

Bukan tanpa alasan, seorang pria tua dan peternak bernama Wilbur Tennant (Bill Camp) adalah penyebabnya. Mengaku mengenal neneknya dan mengunjungi Robert langsung ke kantornya adalah hal yang menggiring Robert menemukan potongan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang tertulis jelas dalam beberapa kertas ketika ia tahu, salah satu perusahaan kliennya yang bernama DuPont punya masalah.

Belum berhenti di situ, berdasarkan attitude dan kompas moralnya, Robert merasa ada yang salah dari semua ini. Sebuah kesalahan besar yang selama ini dipelihara, dijaga dan dibiarkan terlihat “baik-baik saja”. Robert tak mau diam saja, sampai pada akhirnya ia berjuang melawan klien perusahaannya sendiri, yaitu DuPont.

Perusahaan besar, terorganisir dengan baik, dekat dengan kekuasaan, bisa ‘membeli’ apa saja yang ia mau dengan pundi-pundi uang yang sudah terkumpul sejak lama. Bisakah Robert melawan penguasa ini? Siapa yang akhirnya ‘jatuh’ terjerembab dalam sebuah limbo yang mereka gali sendiri?

Biopik Tanpa Dramatisasi

review-film-dark-waters-perlawanan-membongkar-busuknya-korporasi

Film Dark Waters adalah bagian dari kisah nyata sekaligus cerita klise melodrama antara korporat besar yang pada akhirnya takut melawan seorang pria biasa yang hanya staff di sebuah perusahaan hukum. Satu poin cerita yang mungkin kamu temukan di beberapa film yang terkesan ‘berat’. Namun, pada faktanya, poin dari film ini sesederhana itu. Mengambil sudut pandang dari bagaimana seorang pengacara bernama Robert yang awalnya tak peduli menjadi sangat peduli pada masalah ini.

Film ini memang berfokus pada karakter Robert yang dimainkan oleh Mark Ruffalo. Segala sudut pandang selalu diambil dari sisi Robert. Sebuah kisah biopik yang berfokus pada sang pengacara. Namun, tak seperti kisah biopik lainnya, film ini hadir tanpa dramatisasi yang berlebihan. Film ini lebih berfokus pada bagaimana menjinakkan sang perusahaan DuPont, yang arogan, dan semuanya diinisiasi oleh Robert.

Apa yang dibawa oleh sutradara Todd Haynes hanyalah kisah klise yang kemudian dibangun secara  intens dan invasif. Memberikan petunjuk pada penonton, sebelum ke akhirat, konsep neraka sudah ada di Bumi dan kemudian menempatkan penonton ke dalam sebuah pusaran yang terdiri dari sistem hukum yang busuk, uang, pencitraan, hingga kompas moral.

Terkesan lambat, namun terstruktur secara rapi, Film yang di desain berjalan lambat, kemudian seakan-akan berhenti tanpa kejelasan. Memaksa penonton ikut geram, baik pada Robert atau pun DuuPont, perusahaan yang dilawannya. Namun, pada satu titik berikutnya, penonton akan dibuat lega ketika berbagai petunjuk demi petunjuk dan kesalahan-kesalahan DuPont terungkap, sehingga gugatan demi gugatan kemudian dilayangkan bagi si perusahaan.

Sekali lagi, sebagai film drama-biopik, Dark Waters, minim dramatisasi yang melankolis tak terselamatkan. Memang, ada beberapa konflik, namun hanya pelengkap yang kemudian tetap menuju bagaimana cara mengalahkan perusahaan bernama DuPont.

Mark Ruffalo dan Anne Hathaway

review-film-dark-waters-perlawanan-membongkar-busuknya-korporasi

Jika kamu mengikuti cuitan atau media sosial Mark Ruffalo pasti akan paham, bahwa akot yang satu ini sangat peduli dengan masalah-masalah sosial. Ya, itulah Mark Ruffalo, pria canggung yang terkadang sering berada di dalam keragu-raguan, bahkan ketika ia memerankan sosok karakter superhero sekalipun.

Hal ini kembali diperlihatkan di film Dark Waters, Beberapa bagian canggung dan ragu-ragu itu terlihat. Mungkin ini pilihan peran yang tepat dimainkan Ruffalo. Namun, di satu sisi ia juga terlihat begitu gigih memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Memang dasar, aktor berpengalaman.

Sementara aktirs besar lain yang ikut terlibat di film ini adalah Anneh Hathaway. Ia memerankan karakter Sarah, istri dari Robert. Tak banyak memang ia, tampil. Maklum film ini selalu dilihat dari sudut pandang Robert. Namun, yang tak terbantahkan adalah psona Anne Hathaway. Jika diberikan naskaah yang tepat, maka perannya sebagai seorang istri, Ibu dan terkadang melihat suaminya begitu frustasi menghadapai pekerjaannya, maka ini adalah salah satu penampilan terbaik Anne Hathaway.

Transisi Apik

review-film-dark-waters-perlawanan-membongkar-busuknya-korporasi

 

Satu lagi yang patut disoroti dari film ini adalah bagaimana kisah yang muali terkuat di penghujung tahun ’90-an digambarkan dengan baik secara visual. Mengikuti komplkesnya permasalahan antara DuPont dan Robert, film ini kemudian menyorotoi bagian-bagian penting itu satu per satu.

Era ’90-an terlihat dengan pengambilan gambar dengan scene gelap. Sebuah gaya long focus yang kemudian menggambarkan bagaimana kondisi di era akhir’90-an. Secara bertahap, mengikuti kejadian aslinya pertarungan antara Robert dan DuPont pun digambarkan secara real.

Perpindahan transisi dari era ’90-an, 2000-an dan bahkan hingga kini dimainkan dengan baik. Tak ada lagi scene gelap, namun warna-warna terang yang mengikuti perubahan jaman. Pakaian, mobil dan penampilan. Satu pon lagi, film ini bahkan melakukan pengambilan gambar langsung di tempat kejadian. Kabarnya, peternakan milik Will adalah gambaran nyata dari carut-marutnya kondisi lingkungan yang sudah tercemar dan membuat hewan-hewan milik Will tewas dengan cara yang tidak wajar.

Hingga kini pertarungan antara penggugat (masyarakat Amerika) melawan DuPont masih bergulir. Pada satu momentum, DuPont kalah telak. Ia harus membayar konsekuensi dan ganti rugi kepada sekitar 3.000 lebih penggugat yang hidupnya menjadi berantakan gara-gara kebohongan DuPont. Semuanya karena satu orang yang begitu gigih, dan namanya adalah Robert Billot.

Penasaran dengan kegigihan Robert Billot membuat mata dunia tertuju pada busuknya sebuah korporasi? Sudah tayang di bioskop, cek jadwal nonton dan beli tiket film Dark Waters di situs atau aplikasi BookMyShow yang tersedia gratis bagi pengguna Android dan iOS.

 

 

 

 

 

 


BACA JUGA


Ad
[fbcomments]