Selain Bumi Manusia dan Perburuan, Ini 5 Film Indonesia Adaptasi Karya Sastra

selain-bumi-manusia-dan-perburuan-ini-5-film-indonesia-adaptasi-karya-sastra

Bumi Manusia dan Perburuan adalah dua film dari rumah produksi yang sama dan tayang di tanggal yang sama minggu ini. Uniknya, film ini diadaptasi dari karya sastra salah satu penulis legendaris Indonesia Pramoedya Ananta Tour yang juga berjudul sama. Namun, bukan sekali ini saja film adaptasi karya sastra menjadi hits.

Tahun-tahun sebelumnya, terdapat beberapa film Indonesia yang diadaptasi dari karya sastra dari penulis-penulis terkenal Indonesia. Bukan lagi karya sastra berupa novel, namun karya-karya sastra yang legendaris dan mungkin bahkan tidak pernah kamu ketahui sebelumnya.

Berikut lima film adaptasi karya sastra terbaik yang pernah tayang di bioskop versi BookMyShow.

1. Sang Penari (2011)

Pada tahun ’80-an, trilogi yang ditulis Ahmad Tohari berhasil membius penggemar karya sastra. Trilogi tersebut terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Pada tahun 2011, trilogi tersebut kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul Sang Penari.

Hasilnya, film ini tampil baik, meskipun tak semua orang mengerti akan konsepnya. Berkisah tentang pencarian seorang pria bernama Rasus (Oka Antara) pada Srintil (Prisia Nasution) yang terhalang oleh adat Dukuh Paruh. Dari sisi lain, Srintil dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai seorang titisan ronggeng karena kemampuan menarinya. Penuh dengan konflik budaya yang menjadi senjata utama film ini.

Hasilnya, film Sang Penari mendapat penghargaan Film Terbaik Festival Film Indonesia 2011 sekaligus menjadi perwakilan Indonesia di ajang Oscar 2012.

2. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013)

Film berikutnya adalah ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ yang diadaptasi dari karya sastra Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Bertema masalah sosial, kisah cinta yang terhalang karena perbedaan derajat. Klise memang, namun yang jadi masalah adalah bukunya jelas lebih baik dari filmnya.

Sementara itu, untuk filmnya sendiri, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diperankan oleh Pevita Pearce, Herjunot Ali, dan tentu saja Reza Rahadian, dan rilis di akhir tahun 2013.

3. Supernova

selain-bumi-manusia-dan-perburuan-ini-5-film-indonesia-adaptasi-karya-sastra

Ada banyak karya sastra Dewi Lestari yang dituangkan dalam bentuk novel. Namun, karya sastra yang berjudul Supernova layak dimasukkan sebagai salah satu karya sastra terbaik milik Dee. Sukses dengan bukunya, Supernova kemudian diadaptasi menjadi sebuah film.

Jika dalam bukunya, berbagai gambaran tentang ilmu pengetahuan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari tentang cinta, maka dalam filmnya, Supernova tampak tegas dengan gambaran perkawinan bicara tentang banyak hal.

Tak hanya cinta, pernikahan juga menggambarkan bagaimana ikatan keluarga, nilai, norma hingga lapisan sosial.

4. Hujan Bulan Juni

selain-bumi-manusia-dan-perburuan-ini-5-film-indonesia-adaptasi-karya-sastra

Siapa yang tak kenal dengan nama Sapardi Djoko Damono, Jika musim hujan sudha turun, beragam kutipan-kutipan puisinya bermunculan dalam nada-nada melow. Tak ada lagi senja yang indah, namun kisah-kisah getir yang dituangkan dalam berbagai macam bentuk persepsi.

Hujan bulan Juni adalah salah satunya. Salah satu karya sastra yang memang menggetarkan. Sukses besar, dari sisi bukunya, HUjan Bulan Juni kemudian diadaptasi menjadi sebuah film.

Film ini diperankan oleh aktor Adipati Dolken, Velove Vexia, Surya Saputra, hingga aktor asal Jepang Koutaro Kakimoto dan rilis pada tahun 2017 yang lalu.

5. Istirahatlah Kata-Kata

selain-bumi-manusia-dan-perburuan-ini-5-film-indonesia-adaptasi-karya-sastra

Baru rilis beberapa waktu yang lalu. Mendiang Wiji Thukul adalah sosok seniman yang mengkritik pemerintah dengan cara yang halus. Lewat karya-karya sastranya, Wiji Thukul berhasil membuat pejabat-ejabat pemerintah pad amasa Orde Baru mengeluarkan keringat dingin.

Tulisan-tulisan dan narasi Wiji Thukul dianggap sebagai gerakan revolusi yang bisa memicu tindakan melawan pemerintah. Hilang sejak kerusuhan di tahun 1998 dan masih menjadi misteri hingga kini, kisah-kisah sastra Wiji Thukul kemudian diadaptasi menjadi sebuah film.

Berjudul Istirahatlah Kata-kata, sutradara Yosep Anggi Noen, sang sutradara menggambarkan Wiji Thukul sebagai sosok yang memang benar-benar memberikan gambaran perjuangannya dengan syair-syair tajam. Salah satunya adalah momen ketika Wiji diburu oleh pihak kepolisian ketika berada di Pontianak.

Bonus, Keluarga Cemara

review-film-keluarga-cemara-tempat-jujur-untuk-melepas-lelah-dan-jadi-diri-sendiri

Sumber: Visinema Pictures

Sebagai Bonus, BookMyShow menyelipkan karya sastra dari sastrawan yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya beberapa waktu yang lalu, yaitu Arswendo Atmowiloto. Dari sekian banyak karya sastra yang sudha dihasilkannya, Keluarga Cemara adalah yang paling hits.

Keluarga Cemara sendiri lebih bersifat cerita pendek atau Cerpen. Keluarga Cemara ia tuliskan dan ceritakan ketika masih menjadi pemimpin redaksi majalah HAI. Cerpen ini kemudian berkembang menjadi antologi berseri. Selanjutnya, kamu pasti tahu, Keluarga Cemara kemudian diadaptasi menjadi serial televisi yang sangat populer di era ’90-an, hingga akhirnya meledak menjadi menjadi salah satu film terbaik di awal tahun 2019.

Cerita Keluarga Cemara berkisah tentang bagaimana Abah, Emak, dan tiga anak perempuan: Euis, Cemara, dan Agil mengelola keluarga kecil mereka ketika keterbatasan ekonomi menjadi hal yang mengerikan. Cerita ini mampu diadaptasi dengan baik dari antologi, serial televisi hingga filmnya.

Tak salah rasanya jika BookMyShow menempatkan Keluarga Cemara sebagai salah satu film adaptasi karya sastra terbaik yang pernah ada.

Lalu, karya sastra mana yang selanjutnya akan dijadikan film? Untuk saat ini, ada dua Bumi Manusia dan Perburuan yang sedang tayang di bioskop. Cek jadwal dan beli tiket nontonnya di situs atau aplikasi BookMyShow yang tersedia gratis bagi pengguna Aandroid dan iOS.


BACA JUGA


Ad

Comments

comments